Belajar menjadi Guru

GURU SMA

JAKARTA – Hasil uji kompetensi guru (UKG) secara online yang pelaksanaanya semrawut, tidak layak dijadikan sebagai data untuk pemetaan kompetensi guru. Hasilnya diyakini tidak akan menggambarkan kompetesi guru, yang dapat dijadikan pertimbangan dalam melaksanakan pembinaan guru.

“Kalaupun ada guru yang sudah mengerjakan soal UKG, sebaiknya hasil UKG tidak dianalisis dulu untuk disimpulkan sebagai hasil UKG,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo, di Jakarta, hari ini. Banyak soal tertukar, ungkap Sulistyo. Ada soal yang pilihan jawabannya tidak ada yang benar, gambar tidak ada sehingga soal tidak bisa dijawab dengan benar, kode mapel tertukar. Hal ini terjadi karena digitalisasi soal tidak benar. “Jika akan dilakukan pemetaan, tidak akan mampu menggambarkan kompetensi guru yang benar,” ujar Sulistyo.

Menurut Sulistyo, ia terkejut karena ternyata pada sistem ada tulisan batas lulus 70. “Ketentuan ini mengingkari niat semula sebagai pemetaan. Hal ini membuat guru resah, panik dan tertekan,” katanya.

Sulistiyo mengemukakan…

Lihat pos aslinya 417 kata lagi

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s