Alhamdulillah, Denmark Masukkan Pendidikan Islam dalam Kurikulum

REPUBLIKA.CO.ID, KOPENHAGEN – Parlemen Denmark baru-baru ini mengesahkan aturan baru, di mana setiap sekolah diwajibkan untuk memberikan pendidikan agama di luar agama Kristen. Langkah ini diambil dengan harapan dapat mengurangi prasangka agama dan radikalisme.

Pemberian materi pendidikan agama di luar Kristen dimulai dari jenjang pendidikan dasar. Sebelum aturan baru diberlakukan, materi itu diberikan pada jenjang sekolah tingkat pertama.

Ketua Asosiasi Pendeta Denmark (Den Danske Præstforening), Per Buchholdt, menyatakan kebijakan itu hanya mengubah fokus subyek masalah. “Masyarakat kita saat ini sama sekali berbeda. Saya pikir butuh waktu untuk memahami pentingnya agama dalam kehidupan orang lain dan masyarakat secara keseluruhan,” kata dia seperti dikutip cphpost.dk, Kamis (22/6).

Ketua Asosiasi Paroki Gereja (Landsforening af Menighedsråd), Inge Lise Petersen, menilai kebijakan ini perlu mendapat apresiasi. “Tidak salah dengan hal itu. Akan tetapi, lebih sopan apabila siswa dengan latar belakang berbeda untuk berpura-pura bahwa mereka tidak ada,” ucapnya.

Berbeda dengan kedua koleganya itu, Uskup Keuskupan Fyn (Kresten Drejergaard) menyatakan begitu banyak prasangka yang muncul. Kebijakan ini akan memberikan pandangan yang realistis terhadap Islam. Dengan demikian, ada kesempatan bagi Muslim untuk merasa diakui dan berdiri sejajar dengan umat agama lain. “Anak-anak tidak akan menjadi Muslim hanya karena mereka belajar tentang Islam,” katanya.

Pemberlakuan aturan itu memang mendorong banyak sekolah untuk segera mengadopsi kurikulum tentang Islam. Wakil Walikota untuk Integrasi, Anna Mee Allerslev, berharap akan lebih banyak sekolah yang mengikuti. “Tak sedikit dari kalangan muda Denmark salah menginterpretasikan tentang Islam karena mereka mendapatkan banyak pengetahuan tentang agama ini dari media. Saya telah lama berpikir bahwa kita perlu meningkatkan pengetahuan anak-anak kita pada Islam,” paparnya.

Allerslev menambahkan, kebijakan ini pada akhirnya dapat meningkatkan integrasi. “Kekristenan tentu saja harus dipertahankan dalam kurikulum. Tapi saya pikir, agama terbesar kedua kami adalah Islam. Pendidikan tentang Islam juga membutuhkan fokus. Semakin cepat semakin baik,” kata Allerslev.

Redaktur: Chairul Akhmad

Reporter: Agung Sasongko
Pos ini dipublikasikan di BAHAN AJAR, KISAH ISLAMI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s